• 1 Panpel Semprot Air Kurangi Debu
  • 2 165 Polisi Siap Amankan Pelantikan Dewan
  • 3 Pelamar CPNS Tingkat SMA di Basel Mendominasi
  • 4 Kominfo babel gelar internet gratis di simpang 5 Toboali
  • 5 BPKPP Cek Pengairan Sawah
  • 6 Basel Terima Plakat WTN
  • 7 BKKBN Gelar Fasilitas KB Muspida
  • 8 Kejar Swasembada Beras, 3000 Ha Sawah Ditanam
  • 9 Rakor Gubernur Se-Sumatera Hasilkan Kesepakatan
  • 10 Formasi CPNS Basel Telah Keluar
  • Tautan
  • Kontak
  • Unduhan


Top News

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7

Top Galleries

image
Hut Bangka Selatan

Foto Album Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan 2014

Selengkapnya...
image
Nonton Bareng

Album Foto Noton Bareng Piala Dunia Brazil 2014

Selengkapnya...
image
Coming Soon

Unique coming soon offline page

Selengkapnya...

8 Kecamatan Bangka Selatan

  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Payung

    Kecamatan Payung merupakan salah satu dari tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Bangka Selatan dengan ibukota berada di Desa Payung. Hingga saat ini, wilayah admistratif Kecamatan Payung terdiri dari 9 Desa yaitu Bedengung, Irat, Sengir, Nadung, Ranggung, Pangkal Buluh, Malik dan Paku.

    GEOGRAFIS

    Secara geografis Kecamatan Payung terletak di utara Kabupaten Bangka Selatan. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah. Di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Simpang Rimba, di sebelah timur Kecamatan Air Gegas dan di sebelah selatan dengan Kecamatan Pulau Besar.

    Luas wilayah daratan Kecamatan Payung sebesar 372,95 km yang seluruhnya berupa daerah bukan pesisir, kecamatan payung memiliki potensial yang besar untuk dikembangkan sektor perkebunan karena luas lahan yang digunakan untuk permukiman dan perkarangan hanya sekitar 3,18 Km atau 0.86% dari luas seluruh wilayah kecamatan, sedangkan untuk untuk lahan kering 369,97 Hektar atau sekitar 99.14%. Dari segi iklim, kecamatan payung beriklim tropis tipe A.

    PEMERINTAHAN

    Dalam tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008-2010, tidak terjadi pemekaran pada level desa di Kecamatan Payung. Pemekaran terjadi hanya pada level dusun, yaitu 20 dusun di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 42 dusun di tahun 2010. Meskipun terjadi pemekaran pada level dusun di tahun 2010, namun jumlah perangkat dusun tidak mengalami peningkatan, tetap berjumlah 23 orang dari tahun 2008-2010.

    Dalam menunjang kegiatan di desa, di perlukan pembiayaan yang berkelanjutan yang tertuang dalam APBDes. Kontributor terbesar pada jumlah pendapatan desa masih tetap didominasi oleh komponen ADD yang bersumber dari dana bantuan Pemda, Provinsi dan Pusat. Tahun 2008-2009 kontribusi ADD terhadap pendapatan sebesar 100% sedangkan pada tahun 2010 sebesar 99.95%. Ketiadaan peraturan desa yang bekaitan dengan PADes menyebabkan kontribusi PADes di dalam pendapatan hanya 0.05%. Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk membuat peraturan desa (Perdes) agar PADes dapat meningkat.

    PENDUDUK

    Selama periode 2008-2010, jumlah penduduk Kecamatan Payung terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk mengalami pertumbuhan sebesar 2,68 persen dan menurun di tahun berikutnya menjadi 2,21 persen. Tahun 2010 pertumbuhan penduduk cukup tinggi sebesar 4.71% persen. Pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan masalah serius, karena akan berdampak luas dalam perekonomian, yang akan menjalar pada masalah sosial. Untuk itu pemerintah harus menjaga/mengontrol pertumbuhan penduduk ini.

    Jumlah penduduk Kecamatan Payung pada tahun 2010 sebanyak 18.930 jiwa. Di tahun tersebut, setiap 1 km ditempati oleh 51  jiwa. Sex Ratio Kecamatan Payung terus meningkat, tahun 2008 sebesar 103 kemudian meningkat di tahun 2009 menjadi 105. Sex Rasio pada tahun 2010 paling tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya yaitu sebesar 108 yang artinya untuk setiap 208 jiwa penduduk di Kecamatan Payung terdapat 100 penduduk perempuan dan 108 penduduk laki-laki. Hal ini juga menunjukkan bahwa dominasi penduduk laki-laki semakin meningkat.

    Komposisi penduduk di Kecamatan Payung tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Payung.

    PENDIDIKAN

    Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai-mana disebut dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945. Upaya pemenuhan tujuan tersebut dilaksanakan melalui penyelenggaraan pendidikan yang tersebar di seluruh wilayah nusantara baik negeri atau swasta.

    Untuk Kecamatan Payung tahun 2010 sudah tersedia sampai pada jenjang SMA/sederajat dengan rincian sekolah SD negeri/swasta sebanyak 11 unit, SMP negeri/swasta 3 unit, serta SMA/SMK negeri/swasta sebanyak 2 unit.

    Dari sekolah yang ada tersebut jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 3.664 siswa negeri/swasta dengan sebaran murid SD sebanyak 2.396 murid, murid SLTP sebanyak 730 murid, dan murid SMA sebanyak 538 murid.

    Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan  keberadaan guru yang relatif banyak. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Payung seluruhnya ada 216 orang baik  untuk sekolah negeri ataupun swasta dengan rincian mengajar di SD sebanyak 131 orang, di SLTP sebanyak 45 orang, dan di SMU sebanyak 40 orang.

    KESEHATAN

    Sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat secara jamani dan rohani senantiasa menjadi modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan. Fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan yang baik menjadi tuntutan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Payung sudah cukup lengkap. Hal ini dibuktikan dengan adanya satu Puskesmas induk, lima puskesmas pembantu, dan 10 posyandu.

    Jumlah tenaga medis di Kecamatan Payung tahun 2010 menurun dibandingkan tahun 2009. Dimana pada tahun 2010 jumlah dokter yang ada sebanyak 2 orang, 24 orang sebagai paramedis, dan 9 orang sebagai bidan desa.

    Dari dari tahun 2008-2010, penggunaan alat kontrasepsi semakin meningkat hal ini di karenakan semakin pedulinya masyarakat akan pentingnya peran Keluarga Berencana di dalam menciptakan keluarga kecil yang bahagia. Pada tahun 2010 Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah suntikan. Jumlah penguna alat kontrasepsi di kecamatan payung selama tahun 2010 sebanyak 10.703.

    PERTANIAN

    Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Payung, karena merupakan kontributor terbesar pertama terhadap PDRB Kecamatan Payung. Dilihat dari subsektor pendukungnya, kontribusi subsektor tanaman perkebunan dan subsektor tanaman bahan makanan (tabama) merupakan merupakan yang terbesar.

    Pada subsektor tanaman perkebunan, karet merupakan komoditas utama karena menghasilkan produksi yang terbesar dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya, disusul Lada dan kelapa sawit merupakan komoditas unggulan kedua dan ketiga pada subsektor perkebunan di Kecamatan Payung. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi lada selalu menurun hal ini dikarenakan kurang menjanjikannya harga lada di pasaran.Sedangkan untuk sektor tanaman panggan untuk tahun 2010 tidak ada produksi hal ini di karenakan pada tahun 2010 hujan turun sepanjang tahun 2010, yang menyebabkan tidak adanya pembukaan lahan baru, dikarenakan sistem penanaman padi ladang yang berpindah-pindah.

    PERTAMBANGAN & ENERGI

    Pertambangan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Kecamatan Payung, karena di dalamnya  terdapat produk yang bernilai tinggi yaitu timah dan sektor ini cukup banyak dalam hal penyerapan tenaga kerja. Dari data yang ada, produksi bijih timah di Kec. Payung selama tiga tahun terakhir terus meningkat. Tahun 2008 produksi bijih timah mencapai 45 ton dan terus meningkat hingga tahun 2010 mencapai 182 ton.

    Keberadaan energi listrik sangat penting untuk pemenuhan penerangan, penggunaan alat rumah tangga, selain itu energi listrik dapat menunjang proses produksi agar lebih efisien. Oleh karena itu keberadaan listrik yang mencukupi merupakan hal yang vital, terlebih lagi jika listrik tersebut dipakai dalam proses produksi. Untuk Kecamatan Payung penyediaan listrik PLN sudah dinikmati sekitar 79,67 persen dari rumah tangga (RT) yang ada, sisanya sebesar 3,57 persen menggunakan mesin diesel sendiri, 10,78 persen menggunanakan diesel milik orang lain dan sebanyak 5,97 persen menggunakan minyak tanah. Dari data tersebut bisa dikatakan bahwa pemenuhan energi listrik sudah cukup merata di Kecamatan Payung.

    TRANSPORTASI

    Untuk hal transportasi, masyarakat Kecamatan Payung lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor yang digunankan terus meningkat dari tahun 2008 yaitu 6.904 motor menjadi 9.348 motor di tahun 2010. Guna mendukung kelancaran sektor transportasi tersebut dibuatlah jalan-jalan aspal. Sampai tahun 2010 kondisi jalan di Kecamatan Payung sudah cukup bagus. Dari sekitar 99.35 km panjang jalan yang ada di Kecamatan Payung, 94 persen jalan sudah diaspal sedangkan 6 persen masih dalam kondisi tanah.

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Simpang Rimba

    http://www.bangkaselatan.com/wp-content/uploads/2012/09/kecamatan-simpang-rimba.jpg

    Kecamatan Simpang Rimba merupakan kecamatan terjauh dari  ibu kota Kabupaten Bangka Selatan. Dengan luas wilayah sebesar 362,31 km, Kecamatan Simpang Rimba secara administratif terbagi menjadi 7 Desa yaitu Jelutung II, Gudang, Sebagin, Rajik, Permis, Simpang Rimba dan Bangka Kota.

    GEOGRAFI

    Secara geografis Kecamatan Simpang Rimba berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah di sebelah utara, Selat Bangka di sebelah Selatan dan barat kemudian di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Payung dan Pulau Besar. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan 3 dari 7 desa di Kecamatan Simpang Rimba merupakan desa pesisir. Namun apabila dilihat dari topografi, ada beberapa desa yang mempunyai topografi berbukit.

    Kecamatan Simpang Rimba beriklim tropis tipe A, dengan tekanan udara rata-rata berkisar 1.009,4 mb di tahun 2010. Suhu udara rata-rata yang terjadi di Kecamatan Simpang Rimba tahun 2010 cukup panas yaitu 26,95 dengan kelem-baban sebesar 82,8 % dan curah hujan rata-rata sebesar 287,0 mm/bulan yang terjadi selama 260 hari.

    PEMERINTAHAN

    Dalam tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008-2010, tidak terjadi pemekaran pada level desa di Kecamatan Simpang Rimba. Pemekaran terjadi hanya pada level dusun, yaitu 20 dusun di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 27 dusun di tahun 2010.
    Meskipun mulai terjadi pemekaran pada level dusun di tahun 2009, namun jumlah perangkat dusun baru bertambah di tahun 2010 menjadi  32 perangkat dari tahun sebelumnya sebanyak 19 perangkat. Untuk perangkat Rukun Tetangga (RT) tahun 2008 berjumlah 58 perangkat kemudian menjadi 115 perangkat di tahun 2010. Untuk perangkat desa tahun 2008 sebanyak 55 kemudian menjadi 34 perangkat di tahun 2010.

    Dalam proses pembangunan, selain dibutuhkan sumber daya manusia (yang menduduki perangkat tertentu dalam suatu pemerintahan), dibutuhkan pula adanya suntikan modal/kapital agar proses pembangunan dapat berjalan lancar. Dari tahun 2008-2010 jumlah bantuan pembangunan dan swadaya masyarakat di Kecamatan Simpang Rimba terus meningkat dari tahun 2008 sebesar 1,40 milyar rupiah menjadi 5,07 milyar rupiah di tahun 2010.

    PENDUDUK

    Komposisi penduduk di Kecamatan Simpang Rimba tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Selain itu komposisi penduduk juga di dominasi oleh penduduk laki-laki dengan sex ratio tahun 2010 sebesar 103 artinya untuk setiap 203 jiwa penduduk di Kecamatan Simpang Rimba terdapat 100 penduduk perempuan dan 103 penduduk laki-laki. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Simpang Rimba.

    Pada tahun 2008 jumlah penduduk Kecamatan Simpang Rimba sebanyak 20.525 jiwa kemudian berkurang menjadi  20.479 jiwa di tahun 2009. Di tahun 2010 terjadi pertumbuhan penduduk sebesar 7,17 persen sehingga jumlah penduduk tahun 2010 mencapai 21.948 jiwa. Meskipun jumlah penduduk berkurang di tahun 2009, namun kepadatan penduduk tahun 2009 masih sama dengan tahun 2008 yaitu 57 jiwa/km. Dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi di tahun 2010 mengakibatkan kepadatan penduduk menjadi 61 jiwa/km.

    PENDIDIKAN

    Untuk Kecamatan Simpang Rimba tahun 2010 sudah tersedia sekolah sampai pada jenjang SMA/sederajat dengan rincian sekolah SD negeri/swasta sebanyak 11 unit, SMP negeri/swasta 3 unit, serta SMA negeri/swasta sebanyak 1 unit.
    Dari sekolah yang ada tersebut jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 3.844 siswa negeri/swasta dengan sebaran murid SD sebanyak 2.966 murid, murid SMP sebanyak 649 murid, dan murid SMA sebanyak 229 murid.

    Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan  keberadaan guru yang relatif banyak. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Simpang Rimba seluruhnya ada 618 guru baik  untuk sekolah negeri ataupun swasta dengan rincian mengajar di SD sebanyak 148 orang, di SMP sebanyak 41 orang, dan di SMU sebanyak 19 orang.

    KESEHATAN

    Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Simpang Rimba sudah cukup lengkap. Hal ini dibuktikan dengan adanya satu puskesmas induk, empat puskesmas pembantu dan 12 posyandu. Untuk jumlah tenaga medis di Kecamatan Simpang Rimba tahun 2010 sudah terdapat satu dokter, 20 paramedis dan sembilan bidan desa. Untuk paramedis jumlahnya berkurang enam orang dari tahun sebelumnya.

    Dari sepuluh penyakit terbanyak yang menjadi gangguan kesehatan penduduk di Kecamatan Simpang Rimba pada tahun 2010, penyakit infeksi akut lain SPBA paling banyak diderita oleh masyarakat. Kemudian apabila dilihat dari perkembanganya penyakit darah tinggi, penyakit kulit alergi dan infeksi kulit merupakan penyakit dengan perkembangan yang cukup tinggi. Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tercipta SDM yang sehat.

    PERTANIAN

    Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Simpang Rimba, karena merupakan kontributor terbesar pertama terhadap PDRB Kecamatan Simpang Rimba. Dilihat dari subsektor pendukungnya, kontribusi subsektor tanaman bahan makanan (tabama) dan subsektor perkebunan merupakan merupakan yang terbesar.
    Subsektor tabama, ditopang oleh komoditas padi, jagung, ketela pohon, durian dan lain-lain. Di tahun 2010 produksi padi hanya berasal dari padi ladang, tidak terdapat padi sawah. Tahun 2010 Kecamatan Simpang Rimba mampu menghasilkan padi sebanyak 121 ton, jagung 29 ton, ketela pohon 268 ton, dan durian 51 ton.

    Lada dan karet merupakan komoditas unggulan pada subsektor perkebunan di Kecamatan Simpang Rimba. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi karet selalu meningkat. Tahun 2008 produksi karet mencapai 1406 ton kemudian meningkat hingga tahun 2010 mencapai 2302 ton. Berbeda dengan karet, produksi lada justru turun. Tahun 2008 produksi lada mencapai 266 ton kemudian menurun hingga tahun 2010 mencapai 174 ton.

    PERTAMBANGAN & ENERGI

    Pertambangan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Kecamatan Simpang Rimba, karena di dalamnya  terdapat produk yang bernilai tinggi yaitu timah dan sektor ini cukup banyak dalam hal penyerapan tenaga kerja. Dari data yang ada, produksi bijih timah di Kec. Simpang Rimba selama tiga tahun terakhir terus meningkat. Tahun 2008 produksi bijih timah mencapai 783 ton dan terus meningkat hingga tahun 2010 mencapai 2346 ton.

    Keberadaan energi listrik sangat penting untuk pemenuhan penerangan, penggunaan alat rumah tangga, selain itu energi listrik dapat menunjang proses produksi agar lebih efisien. Oleh karena itu keberadaan listrik yang mencukupi merupakan hal yang vital, terlebih lagi jika listrik tersebut dipakai dalam proses produksi. Untuk Kecamatan Simpang Rimba penyediaan listrik PLN sudah dinikmati sekitar 57,73 persen dari rumah tangga (RT) yang ada, sisanya sebesar 3,93 persen menggunakan mesin diesel sendiri, 32,16 persen menggunanakan diesel milik orang lain dan sebanyak 6,18 persen menggunakan minyak tanah. Dari data tersebut bisa dikatakan bahwa pemenuhan energi listrik sudah cukup merata di Kecamatan Simpang Rimba.

    TRANSPORTASI

    Untuk hal transportasi, masyarakat Kecamatan Simpang Rimba lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor yang digunankan terus meningkat dari tahun 2008 yaitu 4316 motor menjadi 6581 motor di tahun 2010. Guna mendukung kelancaran sektor transportasi tersebut dibuatlah jalan-jalan aspal. Sampai tahun 2010 kondisi jalan di Kecamatan Simpang Rimba sudah cukup bagus. Dari sekitar 86 km panjang jalan yang ada di Kecamatan Simpang Rimba, 60 persen jalan sudah diaspal sedangkan sisanya masih dalam bentuk kerikil dan tanah.

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Toboali

    Toboali adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Toboali adalah nama kecamatan sekaligus nama ibukota kecamatan, juga sebagai ibukota Kabupaten Bangka Selatan. Nama lain Toboali adalah Sabang, yang dalam pelafalan orang Toboali disebut Habang. Orang Sabang atau orang Toboali berbicara banyak menggunakan huruf h, misalnya sabun dilapalkan sebagai habun, dst. Mata pencaharian masyarakat Toboali banyak sebagai petani lada, meskipun sekarang sudah mulai ditinggalkan karena kurang menguntungkan, dan sekarang penduduk Toboali banyak bekerja di sektor tambang timah, yaitu TI(tambang inkonvensional).di kota selatan pulau bangka ini hampir tidak terdapat perusahaan berupa pabrik atau industri proses/kimia yang besar, terkecuali hanya tambang timah, yaitu PT.timah dan PT. kobatin.

    masyarakat bangka selatan,terutama toboali pada masa jayanya timah, hidup dengan berkecukupan, tetapi akan menjadi masalah untuk paska timah.fasilitas publik di kota ini termasuk kurang, mengingat daerah ini baru berkembang. masyarakat di daerah ini kebanyakan hidup mandiri secara ekonomi, karena pemerintah kelihatannya kurang intervensi dalam mengentaskan kemiskinan.

    budaya orang toboali salah satunya adalah 'kawin massal', menikah dengan jumlah pasangan yang banyak, disertai dengan hiburan band, yang pada umumnya dilaksanakan malam hari, yang akhir-akhir ini membawa banyak masalah terutama dapak negatif generasi mudanya yang tidak militan belajar menuntut ilmu, dan ada kecenderungan hura-hura dan foya-foya.

    transportasi darat lancar, terutama menghubungkan kota toboali ke ibukota provinsi, serta beberapa jalur umum lainnya, seperti trayek sadai. transportasi laut, terutama pelabuhan sadai menyeberangkan penumpang dari pulau bangka ke pulau belitung serta pulau jawa.rata-rata orang toboali punya kendaraan roda dua.

    kehidupan ekonomi masih alamiah dan belu memanfaatkan teknologi maju, seperti nelayan yang tradisional, petani tradisional. masyarakat toboali secara umum sudah terbuka dengan kemajuan dan mulai bisa mengikuti arus perubahan global dengan ditopnag sarana transportasi dan telekomunikasi yang lancar dan lumayan layak.meskipun demikian tingkat kemajuannya lambat, karena pemerintah daerahnya agak lamban dalam melihat peluang perubahan dan persaingan global yang semestinya mengembangkan dan mendorong rakyatnya untuk bisa menerobos halangan kemajuan ekonomi, pendidikan, budaya dan sosial politik.

    Sejarah

    Asal kata Toboali menurut beberapa versi adalah;

    1. Pada tempat tersebut terdapat kebun tebu milik Ali dan orang menyebut daerah itu Tebu Ali.
    2. Pada tempat tersebut terdapat tebu yang bisa beralih dengan sendirinya, hingga disebut Tebu Alih atau Tebu Ale.
    3. Pada tempat tersebut, pernah tinggal seorang tokoh bernama Raden Wahab. Beberapa waktu setelah beliau wafat, makamnya digali untuk suatu kepentingan. Mereka menemukan bagian kepala jenazah beliau telah hilang. Menurut bisikan ghaib yang diterima pihak keluarganya bahwa bagian kepala jenazah tersebut telah beralih ke tempat kelahiran beliau di daerah Palembang. Hingga berita bagian tubuh yang beralih tersiar luas ke masyarakat, maka mulai saat itu daerah ini disebut Tubuh Alih dan dalam perkembangannya sebutan tersebut menjadi Toboali.(sumber;Basirun, keturunan Raden Wahab).

    Administrasi

    Kecamatan Toboali merupakan pusat pemerintahan sekaligus ibu kota Kabupaten Bangka Selatan. Kecamatan Toboali secara administratif terbagi menjadi 11 Desa/Kelurahan yaitu Kelurahan Toboali, Kelurahan Teladan, Kelurahan Tanjung Ketapang, Desa Gadung, Desa Bikang, Desa Jeriji, Desa Serdang, Desa Kepoh, Desa Rindik, Desa Rias dan Desa Kaposang.

    Geografi

    Toboali dengan luas wilayah 1.460,36 km, berbatasan dengan Kecamatan Air Gegas di sebelah utara dan barat, Selat Bangka di sebelah selatan kemudian di sebelah timur berbatasan dengan Selat Gaspar dan Kecamatan Tukak Sadai. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan 5 dari 11 desa di Kecamatan Toboali merupakan desa pesisir. Namun apabila dilihat dari topografi, semua desa/kelurahan mempunyai topografi datar.

    Kecamatan Toboali beriklim tropis tipe A, dengan tekanan udara rata-rata berkisar 1.009,4 mb pada tahun 2010. Suhu udara rata-rata yang terjadi di Kecamatan Toboali tahun 2010 cukup panas yaitu 26,95 dengan kelembaban sebesar 82,8 % dan curah hujan rata-rata sebesar 287,0 mm/bulan yang terjadi selama 260 hari.

    Demografi

    Komposisi penduduk di Kecamatan Toboali tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Selain itu komposisi penduduk juga di dominasi oleh penduduk laki-laki dengan sex ratio tahun 2010 sebesar 106 artinya untuk setiap 206 jiwa penduduk di Kecamatan Toboali terdapat 100 penduduk perempuan dan 106 penduduk laki-laki. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Toboali.

    Selama periode 2008-2010, jumlah penduduk Kecamatan Toboali terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk sebanyak 54.799 jiwa kemudian tumbuh sebesar 1,45 persen pada tahun 2009 sehingga penduduk menjadi 55.592 jiwa. Meskipun terjadi pertumbuhan penduduk pada tahun 2009, namun kepadatan penduduk tahun 2009 masih sama dengan tahun 2008 yaitu 38 jiwa/km. Tahun 2010 jumlah penduduk Kecamatan Toboali sebanyak 65.071 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 17,05 persen dan kepadatan penduduk 45 jiwa/km.

    Pendidikan

    Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai-mana disebut dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945. Upaya pemenuhan tujuan tersebut dilaksanakan melalui penyelenggaraan pendidikan yang tersebar di seluruh wilayah nusantara baik negri atau swasta. Untuk Kecamatan Toboali tahun 2010 sudah tersedia sampai pada jenjang SMA/sederajat dengan rincian sekolah SD negeri/swasta sebanyak 30 unit, SMP negeri/swasta 8 unit, serta SMA negeri/swasta sebanyak 4 unit.

    Dari sekolah yang ada tersebut jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 11.318 siswa negeri/swasta dengan sebaran murid SD sebanyak 8.739 murid, murid SMP sebanyak 2.628 murid, dan murid SMA sebanyak 1.467 murid.

    Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan keberadaan guru yang relatif banyak. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Toboali seluruhnya ada 618 orang baik untuk sekolah negeri ataupun swasta dengan rincian mengajar di SD sebanyak 419 orang, di SMP sebanyak 155 orang, dan di SMU sebanyak 95 orang.

    Kesehatan

    Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Toboali sudah cukup lengkap. Hal ini dibuktikan dengan adanya satu rumah sakit, dua puskesmas induk, empat puskesmas pembantu, dan 43 posyandu.

    Jumlah tenaga medis di Kecamatan Toboali tahun 2010 meningkat dibandingkan tahun 2009. Dimana pada tahun 2010 jumlah dokter yang ada sebanyak 12 orang, 100 orang sebagai paramedis, dan 18 orang sebagai bidan desa.

    Dari sepuluh penyakit terbanyak yang menjadi gangguan kesehatan penduduk di Kecamatan Toboali, penyakit infeksi akut lain SPBA paling banyak diderita oleh masyarakat. Selain paling banyak, perkembangan penyakit ini pesat, bisa dilihat tahun 2009 penderita penyakit ini sebanyak 2535 orang kemudian meningkat tajam pada tahun 2010 menjadi 3061 orang. Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tercipta SDM yang sehat.

    Pertanian

    Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Toboali, karena merupakan kontributor terbesar ke dua terhadap PDRB Kecamatan Toboali. Dilihat dari subsektor pendukungnya, kontribusi subsektor tanaman bahan makanan (tabama) dan subsektor perkebunan merupakan merupakan yang terbesar.

    Pada subsektor tabama, padi merupakan komoditas utama karena menghasilkan produksi yang terbesar dibandingkan dengan komoditas tabama lainnya. Pada tahun 2010 produksi padi (padi sawah dan padi ladang) mencapai 4.585 ton, meningkat 79,6 ton dari tahun sebelumnya. Sedang produksi jagung mencapai 235,5 ton, ketela pohon 1.848 ton dan kacang tanah 47,15 ton. Lada dan karet merupakan komoditas unggulan pada subsektor perkebunan di Kecamatan Toboali. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi lada dan karet selalu meningkat. Tahun 2008 produksi lada mencapai 500 ton kemudian meningkat hingga tahun 2010 mencapai 505 ton, sedangkan untuk karet tahun 2008 produksinya mencapai 651 ton kemudian terus meningkat hingga tahun 2010 mencapai 671 ton.

    Pertambangan

    Pertambangan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Kecamatan Toboali, karena di dalamnya terdapat produk yang bernilai tinggi yaitu timah dan sektor ini cukup banyak dalam hal penyerapan tenaga kerja. Dari data yang ada, produksi bijih timah di Kec. Toboali selama tiga tahun terakhir terus menurun. Tahun 2008 produksi bijih timah mencapai 3.683 ton dan terus menurun hingga tahun 2010 mencapai 1.665 ton.

    Dalam hal penyerapan tenaga kerja, tahun 2008 sektor pertambangan mampu menyerap 805 Tambang Inkonvensional (TI) dengan tenaga kerja 2523 orang. Tahun 2009 penyerapnya menurun menjadi hanya 186 TI dengan tenaga kerja 605 orang. Tahun 2010 penyerapanya meningkat lagi menjadi 801 TI dengan tenaga kerja 3204 orang. Dengan produksi bijih timah yang menurun dan peningkatan tenga kerja pada tahun 2010 menunjukan adanya penurunan produktivitas.

    Energi

    Pada sektor energi, penyediaan listrik PLN di Kecamatan Toboali hanya dinikmati sekitar 28,37 persen dari rumah tangga (RT) yang ada, sisanya sebesar 10,48 persen menggunakan mesin diesel sendiri, 41,61 persen menggunanakan diesel milik orang lain dan sebanyak 10,48 persen menggunakan minyak tanah.

    Transportasi

    Untuk hal transportasi, masyarakat Kecamatan Toboali lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor yang digunankan terus meningkat dari tahun 2008 yaitu 32256 motor menjadi 32869 motor pada tahun 2010. Guna mendukung kelancaran sektor transportasi tersebut dibuatlah jalan-jalan aspal. Sampai tahun 2010 kondisi jalan di Kecamatan Toboali sudah cukup bagus. Dari sekitar 230 km panjang jalan yang ada di Kecamatan Toboali, 75 persen jalan sudah diaspal sedangkan 25 persen masih dalam kondisi tanah.

    Toboali
    Kecamatan
    Negara  Indonesia
    Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
    Kabupaten Bangka Selatan
    Pemerintahan
     • Camat -Drs. Gunawan Ilyas
    Luas - 1.460,36 km²
    Jumlah penduduk 65.138 jiwa (2010)
    Kepadatan - jiwa/km²
    Desa/kelurahan - 11

     

     

     

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Air Gegas

    Kecamatan Air Gegas merupakan jalur strategis menuju ibukota Kabupaten Bangka Selatan dari Kota Pangkalpinang. Dengan luas wilayah sebesar 853,64  Kecamatan Air Gegas secara administratif terbagi menjadi 10 desa yaitu Pergam, Bencah, Tepus, Air Gegas, Delas, Sidoharjo, Nyelanding, Nangka, Ranggas dan Air Bara.

    GEOGRAFIS

    Secara geografis Kecamatan Air Gegas  berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah di sebelah utara, Selat Bangka di sebelah selatan kemudian di sebelah timur berbatasan dengan  Kecamatan Toboali dan sebelah barat dengan Kecamatan Payung dan Pulau Besar. Karena hanya bagian selatan yang berbatasan dengan laut, men-jadikan 9 dari 10 desa di Kecamatan Air Gegas merupakan desa bukan pesisir. Sedangkan dilihat dari topografi, semua desa mempunyai topografi datar.

    Kecamatan Air Gegas beriklim tropis tipe A, dengan tekanan udara rata-rata berkisar 1.009,4 mb di tahun 2010. Suhu udara rata-rata yang terjadi di Kecamatan Air Gegas tahun 2010 cukup panas yaitu 26,95 dengan kelembaban sebesar 82,8 % dan curah hujan rata-rata sebesar 287,0 mm/bulan yang terjadi selama 260 hari.

    PEMERINTAHAN

    Dalam tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008-2010, tidak terjadi pemekaran pada level desa di Kecamatan Air Gegas. Pemekaran terjadi hanya pada level dusun, yaitu 36 dusun di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 42 dusun di tahun 2010.

    Meskipun terjadi pemekaran pada level dusun di tahun 2009 dan 2010, namun jumlah perangkat dusun baru bertambah di tahun 2010 menjadi 41. Tahun 2008 dan 2009 jumlah perangkat dusun sama yaitu 37 perangkat.  Perubahan jumlah perangkat juga terjadi pada level Rukun Tetangga, yaitu 128 perangkat di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 181 perangkat di tahun 2010.

    PENDUDUK

    Komposisi penduduk di Kecamatan Air Gegas tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Selain itu komposisi penduduk juga di dominasi oleh penduduk laki-laki dengan sex ratio tahun 2010 sebesar 107 artinya untuk setiap 207 jiwa penduduk di Kecamatan Air Gegas terdapat 100 penduduk perempuan dan 107 penduduk laki-laki. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Air Gegas.

    Selama periode 2008-2010, jumlah penduduk Kecamatan Air Gegas terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk sebanyak 35.343 jiwa kemudian tumbuh sebesar 4,61 persen di tahun 2009 sehingga penduduk menjadi 36.974 jiwa. Dengan pertumbuhan penduduk di tahun 2009 sebesar 4,61 persen, mengakibatkan kepadatan penduduk berubah menjadi 43 jiwa/km.dari tahun sebelumnya yang hanya 41 jiwa/km.Tahun 2010 jumlah penduduk Kec. Air Gegas sebanyak 37.602 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,7 persen dan kepadatan penduduk 44 jiwa/km.

    PENDIDIKAN

    Untuk Kecamatan Air Gegas tahun 2010 sekolah yang tersedia sampai pada jenjang SMA/sederajat dengan rincian sekolah SD negeri sebanyak 12 unit, SMP negeri 5 unit, 1 SMA dan 1 SMK.

    Dari sekolah yang ada tersebut  (kecuali SMA dan SMK, karena data data belum tersedia) jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 5.521 siswa negeri dengan sebaran murid SD sebanyak 4.445 murid, murid SMP sebanyak 1.076 murid.

    Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan  keberadaan guru yang relatif memadai. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Air Gegas (kecuali SMA dan SMK, karena data data belum tersedia) seluruhnya ada 238 orang dengan rincian mengajar di SD sebanyak 176 orang dan SMP sebanyak 62 orang.

    KESEHATAN

    Fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan yang baik menjadi tuntutan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Air Gegas sudah cukup lengkap. Hal ini dibuktikan dengan adanya satu puskesmas induk, tujuh puskesmas pembantu dan 10 posyandu.

    Jumlah tenaga medis di Kec. Air Gegas tahun 2010 menurun dibandingkan tahun 2009, kecuali bidan desa. Kondisi pada tahun 2010 jumlah dokter sudah tersedia sebanyak 1 orang, 22 orang sebagai paramedis, dan 14 orang sebagai bidan desa.

    Dari sepuluh penyakit terbanyak yang menjadi gangguan kesehatan penduduk di Kecamatan Air Gegas, penyakit infeksi akut lain SPBA paling banyak diderita oleh masyarakat. Selain paling banyak, perkembangan penyakit ini pesat, bisa dilihat tahun 2009 penderita penyakit ini sebanyak 855 orang kemudian meningkat tajam di tahun 2010 menjadi 1397 orang. Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tercipta SDM yang sehat.

    PERTANIAN

    Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Air Gegas, karena merupakan kontributor terbesar terhadap PDRB Kecamatan Air Gegas. Dilihat dari subsektor pendukungnya, kontribusi subsektor tanaman bahan makanan (tabama) dan subsektor perkebunan merupakan merupakan yang terbesar.

    Pada subsektor tabama, padi merupakan komoditas utama karena menghasilkan produksi yang terbesar dibandingkan dengan komoditas tabama lainnya. Di tahun 2010 produksi padi (padi sawah dan padi ladang) mencapai 1602,3 ton. Sedang untuk produksi ketela pohon sebanyak 834 ton, untuk jagung dan ubi jalar tidak ada.

    Lada dan karet merupakan komoditas unggulan pada subsektor perkebunan di Kecamatan Air Gegas. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi lada dan karet meningkat di tahun 2010. Tahun 2008 produksi lada mencapai 2205 ton kemudian di tahun 2010 menjadi 2450 ton, sedangkan untuk karet tahun 2008 produksinya mencapai 394 ton kemudian di tahun 2010 menjadi 1069 ton.

    PERTAMBANGAN DAN ENERGI

    Dari data yang ada, produksi bijih timah di Kec. Air Gegas selama tiga tahun terakhir tidak stabil. Tahun 2008 produksi bijih timah mencapai 2.984 ton dan menurun di tahun 2009 menjadi 1054 ton, namun meningkat lagi di tahun 2010  menjadi 1391 ton.

    Dalam hal penyerapan tenaga kerja, tahun 2008 sektor pertambangan mampu menyerap 364 TI dengan tenaga kerja 1456 orang. Tahun 2009 penyerapnya meningkat menjadi 414 TI dengan tenaga kerja 1656 orang. Untuk tahun 2010 jumlah TI dan tenaga kerja tidak tersedia.

    Keberadaan energi listrik sangat penting untuk  menunjang aktivitas sehari-hari. Pada sektor energi, penyediaan listrik PLN di Kecamatan Air Gegas tahun 2009 hanya dinikmati sekitar 68,48 persen dari rumah tangga yang ada, sisanya sebesar 1,04 persen menggunakan mesin diesel sendiri, 17,97 persen menggunakan diesel milik orang lain dan sebanyak 12,51 persen menggunakan minyak tanah.

    TRANSPORTASI

    Untuk hal transportasi, masyarakat Kecamatan Air Gegas lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor tahun 2008 sebanyak 7997 kemudian menjadi 8347 di tahun 2009. Tahun 2010 jumlah kendaraan bermotor berkurang menjadi 8119. Guna mendukung kelancaran sektor transportasi tersebut dibuatlah jalan-jalan aspal. Sampai tahun 2009 kondisi jalan di Kecamatan Air Gegas masih kurang. Dari sekitar 225 km panjang jalan yang ada di Kecamatan Air Gegas, 42 persen jalan sudah diaspal sedangkan 58 persen masih dalam kondisi tanah.

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Lepar Pongok

    Kecamatan Lepar Pongok merupakan kecamatan yang terdiri dari pulau-pulau dengan pulau utamanya adalah Pulau Lepar dan Pulau Pongok. Dengan luas wilayah sebesar 264,44 km,  Kecamatan Lepar Pongok secara administratif terbagi menjadi 6 Desa yaitu Penutuk, Tanjung Labu, Pongok, Tanjung Sangkar, Kumbung dan Celagen.

    GEOGRAFI

    Secara geografis Kecamatan Lepar Pongok  berbatasan dengan Selat Gaspar di sebelah utara dan Timur, Laut Jawa di sebelah Selatan kemudian di sebelah timur berbatasan dengan  Selat Gaspar. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan semua desa di Kecamatan Lepar Pongok merupakan desa pesisir. Namun apabila dilihat dari topografi, 3 desa mempunyai topografi datar dan sisanya berbukit.

    Kecamatan Lepar Pongok beriklim tropis tipe A, dengan tekanan udara rata-rata berkisar 1.009,4 mb di tahun 2010. Suhu udara rata-rata yang terjadi di Kecamatan Lepar Pongok tahun 2010 cukup panas yaitu 26,95 dengan kelembaban sebesar 82,8 % dan curah hujan rata-rata sebesar 287,0 mm/bulan yang terjadi selama 260 hari.

    PEMERINTAHAN

    Dalam tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008-2010, tidak terjadi pemekaran pada level desa di Kecamatan Lepar Pongok. Pemekaran terjadi hanya pada level dusun, yaitu 19 dusun di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 20 dusun di tahun 2010 dan 24 dusun di tahun 2010.

    Meskipun tidak terjadi pemekaran pada level desa, namun jumlah perangkat desa berubah-ubah. Tahun 2008 jumlah perangkat desa 46 orang, kemudian meningkat di tahun 2009 menjadi 47 perangkat, namun tahun 2010 jumlah perangkat turun drastis menjadi 36 orang. Untuk level dusun jumlah perangkat bergerak mengikuti adanya pemekaran. Tahun 2008 jumlah perangkat dusun 19 orang kemudian menjadi 23 orang di tahun 2010.

    Dalam proses pembangunan, selain dibutuhkan sumber daya manusia (yang menduduki perangkat tertentu dalam suatu pemerintahan), dibutuhkan pula adanya suntikan modal/kapital agar proses pembangunan dapat berjalan lancar. Dari tahun 2008-2010 jumlah bantuan pembangunan dan swadaya masyarakat di Kecamatan Lepar Pongok mengalami penurunan dari tahun 2008 sebesar 2,4 milyar rupiah menjadi 360 juta rupiah di tahun 2009 dan 2010.

    PENDUDUK

    Komposisi penduduk di Kecamatan Lepar Pongok tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Selain itu komposisi penduduk juga di dominasi oleh penduduk laki-laki dengan sex ratio tahun 2010 sebesar 109 artinya untuk setiap 209 jiwa penduduk di Kabupaten Kecamatan Lepar Pongok terdapat 100 penduduk perempuan dan 109 penduduk laki-laki. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Lepar Pongok.

    Selama periode 2008-2010, jumlah penduduk Kecamatan Lepar Pongok terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk sebanyak 12.664 jiwa kemudian tumbuh sebesar 0,29 persen di tahun 2009 sehingga penduduk menjadi 12.701 jiwa. Meskipun terjadi pertumbuhan penduduk di tahun 2009, namun kepadatan penduduk tahun 2009 masih sama dengan tahun 2008 yaitu 48 jiwa per km.

    Tahun 2010 berdasarkan hasil sensus penduduk jumlah penduduk Kecamatan Lepar Pongok turun menjadi 11.706 jiwa dengan kepadatan penduduk 44 jiwa per km.

    PENDIDIKAN

    Untuk di Kecamatan Tukak Sadai tahun 2010  tersedia fasilitas sekolah sampai pada jenjang SMP dengan rincian sekolah SD negeri sebanyak 4 unit, SMP negeri 1 unit. Kondisi ini tentu harus mendapat perhatian dari pemerintah agar proses pendidikan dapat terus berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi.

    Dari sekolah yang ada tersebut jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 1.462 siswa negeri dengan sebaran murid SD sebanyak 1.127 murid, murid SMP sebanyak 335 murid.

    Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan  keberadaan guru yang relatif memdai. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Tukak Sadai seluruhnya ada 71 orang baik  untuk sekolah negri dengan rincian mengajar di SD sebanyak 55 orang dan SMP sebanyak 16 orang.

    KESEHATAN

    Sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat secara jasmani dan rohani senantiasa menjadi modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan. Fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan yang baik menjadi tuntutan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Lepar Pongok sudah cukup memadai. Hal ini dibuktikan dengan adanya dua puskesmas induk, dua puskesmas pembantu, dan 13 posyandu.

    Jumlah tenaga medis di Kecamatan Lepar Pongok tahun 2010 masih sama dibandingkan tahun 2009. Dimana pada tahun 2010 jumlah dokter yang ada sebanyak 3 orang, 15 orang sebagai paramedis, dan 10 orang sebagai bidan desa.

    Dari sepuluh penyakit terbanyak yang menjadi gangguan kesehatan penduduk di Kecamatan Lepar Pongok, penyakit infeksi akut lain SPBA paling banyak diderita oleh masyarakat. Selain paling banyak, perkembangan penyakit ini pesat, bisa dilihat tahun 2009 penderita penyakit ini sebanyak 491 orang kemudian meningkat tajam di tahun 2010 menjadi 912 orang. Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tercipta SDM yang sehat.

    PERTANIAN

    Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Lepar Pongok, karena merupakan kontributor terbesar terhadap PDRB Kecamatan Lepar Pongok. Sektor pertanian terdiri dari sektor subsektor tabama, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.

    Pada subsektor tabama, padi merupakan komoditas utama karena menghasilkan produksi yang terbesar dibandingkan dengan komoditas tabama lainnya. Di tahun 2010 produksi padi (padi sawah dan padi ladang) mencapai 289.5 ton, meningkat 251,5 ton dari tahun sebelumnya. Sedang untuk komoditas jagung, ketela pohon dan kacang tanah di tahun 2010 tidak berproduksi.

    Lada dan karet merupakan komoditas unggulan pada subsektor perkebunan di Kecamatan Lepar Pongok. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi lada dan karet selalu meningkat. Tahun 2008 produksi lada mencapai 62 ton kemudian meningkat hingga tahun 2010 mencapai 318 ton, sedangkan untuk karet tahun 2008 produksinya mencapai 26 ton kemudian terus meningkat hingga tahun 2010 mencapai 842 ton.

    PERTAMBANGAN & ENERGI

    Pertambangan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Kecamatan Lepar Pongok, karena di dalamnya  terdapat produk yang bernilai tinggi yaitu timah dan sektor ini cukup banyak dalam hal penyerapan tenaga kerja.

    Dalam hal penyerapan tenaga kerja, tahun 2008 sektor pertambangan mampu menyerap 125 Tambang Inkonvensional (TI) dengan tenaga kerja 375 orang. Tahun 2009 penyerapnya meningkat menjadi hanya 132 TI dengan tenaga kerja 364 orang. Tahun 2010 penyerapanya masih sama sebanyak menjadi 132 TI dengan tenaga kerja 364 orang.

    Pada sektor energi, penyediaan listrik PLN di Kecamatan Lepar Pongok hanya dinikmati sekitar 16,54 persen dari rumah tangga (RT) yang ada, sisanya sebesar 65,50 persen menggunakan diesel dan 17,96 persen menggunakan minyak tanah. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah, lebih khusus terhadap rumah tangga yang menggunakan minyak tanah, bagaimana agar bisa menikmati listrik yang ada. Hal ini agar terjadi pemerataan hasil pembangunan.

    TRANSPORTASI

    Peranan sektor transportasi di Kecamatan Lepar Pongok termasuk dalam sektor strategis untuk memperlancar mobilitas barang dan penumpang maupun penyebaran informasi terlebih lagi bentuk geografis Kecamatan Lepar Pongok yang terdiri dari beberapa pulau, menjadikan sektor ini merupakan sektor yang sangat vital.

    Selain kapal kecil untuk penyebrangan antar pulau, untuk hal transportasi di dalam pulau, masyarakat Kecamatan Lepar Pongok lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor yang digunankan terus meningkat dari tahun 2008 yaitu 530 motor menjadi 920 motor di tahun 2010.

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Tukak Sadai

    Kecamatan Tukak Sadai merupakan kecamatan dengan luas daratan terkecil di bandingkan 7 kecamatan lain yang ada di Kabupaten Bangka Selatan. Dengan luas wilayah sebesar 126 km,  Kecamatan Tukak Sadai secara administratif terbagi menjadi 5 Desa yaitu Sadai, Tukak, Pasir Putih, Tiram dan Bukit Terap.

    GEOGRAFI

    Secara geografis Kecamatan Tukak Sadai  berbatasan dengan Kecamatan Toboali dan Selat Gaspar di sebelah utara, Laut Jawa di sebelah Selatan kemudian di sebelah timur berbatasan dengan  Kecamatan Lepar Pongok dan sebelah barat dengan Kecamatan Toboali. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan semua desa di Kecamatan Tukak Sadai merupakan desa pesisir. Namun apabila dilihat dari topografi, semua desa mempunyai topografi datar.

    Kecamatan Tukak Sadai beriklim tropis tipe A, dengan tekanan udara rata-rata berkisar 1.009,4 mb di tahun 2010. Suhu udara rata-rata yang terjadi di Kecamatan Tukak Sadai tahun 2010 cukup panas yaitu 26,95 dengan kelem-baban sebesar 82,8 persen dan curah hujan rata-rata sebesar 287,0 mm/bulan yang terjadi  selama 260 hari.

    PEMERINTAHAN

    Dalam tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008-2010, tidak terjadi pemekaran pada level desa di Kecamatan Tukak Sadai. Pemekaran terjadi hanya pada level dusun, yaitu 7 dusun di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 9 dusun di tahun 2009 dan meningkat lagi di tahun 2010 menjadi 10 dusun.

    Meskipun terjadi pemekaran pada level dusun selam tahun 2009 dan 2010, namun jumlah perangkat dusun baru bertambah di tahun 2010 menjadi 10 orang. Selain pada level dusun perubahan jumlah perangkat terjadi juga pada level Rukun Tetangga, yaitu 40 orang di tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 57 orang di tahun 2010. Sementara itu jumlah perangkat desa menurun dari 23 oarang di tahun 2008 menjadi 20 orang di tahun 2010.

    Dalam proses pembangunan, selain dibutuhkan sumber daya manusia (yang menduduki perangkat tertentu dalam suatu pemerintahan), dibutuhkan pula adanya suntikan modal/kapital agar proses pembangunan dapat berjalan lancar. Dari tahun 2008-2010 jumlah bantuan pembangunan dan swadaya masyarakat di Kecamatan Tukak Sadai terus meningkat dari tahun 2008 sebesar 0,7 milyar rupiah menjadi 1,7 milyar rupiah di tahun 2010.

    PENDUDUK

    Komposisi penduduk di Kecamatan Toboali tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Selain itu komposisi penduduk juga di dominasi oleh penduduk laki-laki dengan sex ratio tahun 2010 sebesar 109 artinya untuk setiap 209 jiwa penduduk di Kecamatan Tukak Sadai terdapat 100 penduduk perempuan dan 109 penduduk laki-laki. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Tukak Sadai.

    Selama periode 2008-2010, jumlah penduduk Kecamatan Tukak Sadai terus  berkurang. Pada tahun 2008 jumlah penduduk sebanyak 13.388 jiwa kemudian berkurang sebesar 3.278 jiwa di tahun 2009. Hingga tahun 2010 jumlah penduduk Kecamatan Tukak Sadai menjadi 9960 jiwa, berkurang  150 jiwa dari tahun 2009. Akibat berkurangnya jumlah penduduk tersebut, berdampak kepada kepadatan penduduk yang semakin menurun. Tahun 2008 kepadatan penduduk sebesar 106 jiwa/km. kemudian turun drastis di tahun 2009 menjadi 80 jiwa/km.Tahun 2010 kepadatan penduduk berkurang lagi menjadi 79 jiwa/km.

    PENDIDIKAN

    Untuk di Kecamatan Tukak Sadai tahun 2010  tersedia fasilitas sekolah sampai pada jenjang SMP dengan rincian sekolah SD negeri sebanyak 4 unit, SMP negeri 1 unit. Kondisi ini tentu harus mendapat perhatian dari pemerintah agar proses pendidikan dapat terus berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi.

    Dari sekolah yang ada tersebut jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 1.462 siswa negeri dengan sebaran murid SD sebanyak 1.127 murid, murid SMP sebanyak 335 murid. Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan  keberadaan guru yang relatif memdai.

    Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Tukak Sadai seluruhnya ada 71 orang baik  untuk sekolah negri dengan rincian mengajar di SD sebanyak 55 orang dan SMP sebanyak 16 orang.

    KESEHATAN

    Fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan yang baik menjadi tuntutan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Tukak Sadai belum begitu lengkap. Fasilitas kesehatan hanya terdapat satu puskesmas induk dan 8 posyandu.

    Untuk tenaga medis hanya terdapat bidan desa, namun di tahun 2010 sudah terdapat 7 tenaga paramedis yang berarti terdapat perbaikan dalam bidang kesehatan oleh pemerintah . Tahun 2008 hanya terdapat 3 bidan desa dari 5 desa yang ada kemudian meningkat menjadi 5 bidan desa di tahun 2010.

    Dari sepuluh penyakit terbanyak yang menjadi gangguan kesehatan penduduk di Kecamatan Tukak Sadai, penyakit infeksi akut lain SPBA paling banyak diderita oleh masyarakat. Selain paling banyak, perkembangan penyakit ini pesat, bisa dilihat tahun 2009 penderita penyakit ini sebanyak 59 orang kemudian meningkat tajam di tahun 2010 menjadi 308 orang. Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tercipta SDM yang sehat.

    PERTANIAN

    Sektor pertanian terdiri dari subsektor tabama, subsektor perkebunan, subsektor perikanan dan subsektor kehutanan
    Pada subsektor tabama di Kecamatan Tukak Sadai hanya ketimun yang menonjol produksinya di tahun 2010 mencapai 410 ton. Untuk padi ladang tahun 2010 tidak menghasilkan lagi karena tidak ada yang menanam. Untuk jagung produksinya selalu meningkat tiap tahun sedangkan untuk ubi jalar baru ada di tahun 2010 dengan produksi mencapai 60 ton.

    pada subsektor perkebunan di Kecamatan Tukak Sadai. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi lada dan karet selalu meningkat. Tahun 2008 produksi lada mencapai 84 ton kemudian meningkat hingga tahun 2010 mencapai 1509 ton, sedangkan untuk karet tahun 2008 produksinya mencapai 132 ton kemudian terus meningkat hingga tahun 2010 mencapai 2122 ton.

    PERTAMBANGAN & ENERGI

    Pertambangan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Kecamatan Tukak Sadai, karena di dalamnya  terdapat produk yang bernilai tinggi yaitu timah dan sektor ini cukup banyak dalam hal penyerapan tenaga kerja. Dari data yang ada, produksi bijih timah di Kec. Tukak Sadai menurun dari tahun 2009 sebesar 249 ton menjadi 226 ton di tahun 2010.

    Dalam hal penyerapan tenaga kerja, tahun 2008 sektor pertambangan mampu menyerap 146 Tambang Inkonvensional (TI) dengan tenaga kerja 584 orang. Tahun 2009 penyerapnya naik menjadi hanya 156 TI dengan tenaga kerja 624 orang. Tahun 2010 penyerapanya menurun menjadi 95 TI dengan tenaga kerja 359 orang. Penurunan penyerapan tenga kerja di tahun 2010 sejalan dengan penurunan produksi bijih timah.

    Pada sektor energi, penyediaan listrik PLN di Kecamatan Tukak Sadai belum ada. Masyarakat Kecamatan Tukak Sadai masih menggunakan diesel dan minyak tanah sebagai energi penerangan dengan rincian sebesar 44,06 persen rumah tangga (RT) menggunakan mesin diesel sendiri, 39,77 persen  RT menggunanakan diesel milik orang lain dan sebanyak 16,18 persen  RT menggunakan minyak tanah.

    TRANSPORTASI & KOMUNIKASI

    Untuk hal transportasi, masyarakat Kecamatan Tukak Sadai lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor yang digunankan terus meningkat dari tahun 2008 yaitu 2846 motor menjadi 4916 motor di tahun 2010. Guna mendukung kelancaran sektor transportasi tersebut dibuatlah jalan-jalan aspal. Sampai tahun 2010 kondisi jalan di Kecamatan Tukak Sadai sudah cukup bagus. Dari sekitar 52 km panjang jalan yang ada di Kecamatan Tukak Sadai, 74 persen jalan sudah diaspal sedangkan 16 persen masih dalam kondisi tanah dan 10 persen masih dalam kondisi jalan kerikil.

    Dalam hal penunjang komunikasi, sudah terdapat tujuh tower (pemancar sinyal telepon gengam) dengan rincian 2 di Desa Sadai, 2 di Desa Pasir Putih, 2 di Desa Tiram dan 1 di Desa Bukit Terap sedangkan untuk Desa Tukak belum ada. Di jaman sekarang penyebaran informasi sangat penting agar tidak tertinggal dari wilayah lain untuk itu pembangunan penunjang komunikasi sangat diperlukan.

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kecamatan Pulau Besar

    Kecamatan Pulau Besar merupakan kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Payung. Dengan luas wilayah sebesar 169,87 km, Kecamatan Pulau Besar secara administratif terbagi menjadi 5 desa yaitu Batu Betumpang, Panca Tunggal, Fajar Indah, Suka Jaya dan Sumber Jaya Permai.

    GEOGRAFIS

    Secara geografis Kecamatan Pulau Besar berbatasan dengan Kecamatan Air Gegas di sebelah timur, Selat Bangka di sebelah selatan kemudian di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Simpang Rimba dan Kecamatan Payung di sebelah utara. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan 1 dari 5 desa di Kecamatan Pulau Besar merupakan desa pesisir. Namun apabila dilihat dari topografi, semua desa mempunyai topografi datar.

    Kecamatan Pulau Besar beriklim tropis tipe A, dengan tekanan udara rata-rata berkisar 1.009,4 mb di tahun 2010. Suhu udara rata-rata yang terjadi di Kecamatan Toboalitahun 2010 cukup panas yaitu 26,95 dengan kelem-baban sebesar 82,8 % dan curah hujan rata-rata sebesar 287,0 mm/bulan yang terjadi selama 260 hari.

    PEMERINTAHAN

    Dalam tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008-2010, tidak terjadi pemekaran pada level desa dan dusun  di Kecamatan Pulau Besar. Kondisi tahun 2010 Kecamtan Pulau Besar terdiri dari 5 desa dengan 16 dusun.
    Di tahun 2010 terjadi pengu-rangan jumlah perangkat desa, namun jumlah perangkat dusun tidak mengalami peningkatan, tetap berjumlah 16 orang dari tahun 2008-2010. Perubahan jumlah perangkat juga terjadi pada level Rukun Tetangga (RT), yaitu 62 perangkat di tahun 2008 kemudian menurun menjadi 60 perangkat di tahun 2009 kemudian menjadi 70 perangkat di tahun 2010.

    Dalam proses pembangunan, selain dibutuhkan sumber daya manusia (yang menduduki perangkat tertentu dalam suatu pemerintahan), dibutuhkan pula adanya suntikan modal/kapital agar proses pembangunan dapat berjalan lancar. Dari data yang ada, tahun 2008 jumlah bantuan pembangunan dan swadaya masyarakat di Kec. Pulau Besar sebesar 1,27 milyar rupiah. Untuk tahun 2009 dan tahun 2010 nilai  bantuan pembangunan dan swadaya masyarakat di Kec. Pulau Besar menjadi 1,2 milyar rupiah.

    PENDUDUK

    Komposisi penduduk di Kecamatan Pulau Besar tahun 2010 tercermin pada piramida penduduknya yang didominasi oleh kelompok umur usia produktif yaitu penduduk berusia 15-64 tahun. Selain itu komposisi penduduk juga di dominasi oleh penduduk laki-laki dengan sex ratio tahun 2010 sebesar 106 artinya untuk setiap 206 jiwapenduduk di Kecamatan Pulau Besar terdapat 100 penduduk perempuan dan 106 penduduk laki-laki. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan lapangan usaha agar penduduk usia produktif ini tidaklah menjadi potensi pengangguran di Kecamatan Pulau Besar.

    Selama periode 2008-2010, jumlah penduduk Kecamatan Pulau Besar terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk sebanyak 8.538 jiwa kemudian tumbuh sebesar 1,51 persen di tahun 2009 sehingga penduduk menjadi 8.667 jiwa. Terjadinya pertumbuhan penduduk di tahun 2009, menyebabkan kepadatan penduduk tahun 2009 meningkat 51jiwa/km2 dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu 50 jiwa/km2.

    Tahun 2010 jumlah penduduk Kecamatan Pulau Besar sebanyak 8.833 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,92 persen dan kepadatan penduduk 52  jiwa/km2.

    PENDIDIKAN

    Untuk Kecamatan Pulau Besar tahun 2010 sudah tersedia sampai pada jenjang SMA dengan rincian sekolah SD negeri/swasta sebanyak 7 unit, SMP negeri/swasta 1 unit, serta SMA negeri/swasta sebanyak 1 unit.
    Dari sekolah yang ada tersebut jumlah murid pada tahun 2010 berjumlah 1491 siswa negeri/swasta dengan sebaran murid SD sebanyak 1040 murid, murid SMP sebanyak 396 murid, dan murid SMA sebanyak 55 murid.

    Sebagai pendukung sarana dan prasarana yang telah dibangun harus diimbangi pula dengan  keberadaan guru yang relatif banyak. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang berada di Kecamatan Pulau Besar seluruhnya ada 84 orang baik  untuk sekolah negeri ataupun swasta dengan rincian mengajar di SD sebanyak 48 orang, di SMP sebanyak 20 orang, dan di SMU sebanyak 16 orang.

    KESEHATAN

    Hingga tahun 2010, fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Pulau Besar belum begitu lengkap. Hal ini bisa terlihat dari tidak tersedianya rumah sakit dan puskesmas induk. Namun untuk keberadaan posyandu sudah tersedia disetiap desa.

    Tidak tersedianya puskesmas induk meyebabkan tenaga dokter tidak ada di Kecamatan Pulau Besar. Jumlah tenaga medis di Kecamatan Pulau Besar tahun 2008-2010 yang mengalami penigkatan hanya jumlah bidan desa sedangkan jumlah paramedis tetap. Dimana pada tahun 2010 jumlah paramedis yang ada sebanyak 5 orang dan 5 orang sebagai bidan desa.

    Selain kesehatan masyarakat, terciptanya keluarga sejahtera juga menjadi penting dalam pencapaian pembangunan. Salah satu program demi mencapai tujuan tersebut adalah program KB. Untuk Kec. Pulau Besar peserta program KB terus bertambah dari tahun 2008-2010.

    PERTANIAN

    Sektor pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Pulau Besar, karena merupakan kontributor terbesar  terhadap PDRB Kecamatan Pulau Besar. Sektor pertanian terdiri dari subsektor tabama, subsektor perkebunan, subsektor perikanan dan subsektor kehutanan.

    Pada subsektor tanaman di Kecamatan Pulau Besar, untuk padi hanya terdapat padi ladang saja di tahun 2010 dengan produksi mencapai 18 ton. Selain padi, terdapat juga komoditas jagung dan ketela pohon di Kecamatan Pulau Besar dengan produksi 1,3 ton untuk jagung dan 11 ton untuk ketela pohon di tahun 2010.

    Lada dan karet merupakan komoditas unggulan pada subsektor perkebunan di Kecamatan Pulau Besar. Selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2008 sampai tahun 2010 produksi karet selalu meningkat, namun untuk lada produksinya terus menurun. Tahun 2008 produksi lada mencapai 3.6 ton kemudian terus menurun hingga tahun 2010 mencapai 2.7 ton, sedangkan untuk karet tahun 2008 produksinya mencapai 111 ton kemudian terus meningkat hingga tahun 2010 mencapai 134 ton.

    PERTAMBANGAN DAN ENERGI

    Pertambangan bukan merupakan sektor penting bagi perekonomian Kecamatan Pulau Besar, karena hanya sebagian kecil masyarakat yang bergantung pada sektor pertambangan.

    Dalam hal penyerapan tenaga kerja, tahun 2008 sektor pertambangan mampu menyerap 10 tambang inkonvensional dengan tenaga kerja 38 orang. Tahun 2009 penyerapnya meningkat menjadi hanya 23 tambang inkonvensional dengan tenaga kerja 90 orang. Tahun 2010 penyerapanya meningkat lagi menjadi 92 Tambang Inkonvensional dengan tenaga kerja 276 orang.

    Keberadaan energi listrik sangat penting untuk pemenuhan penerangan, penggunaan alat rumah tangga, selain itu energi listrik dapat menunjang proses produksi agar lebih efisien. Oleh karena itu keberadaan listrik yang mencukupi merupakan hal yang vital. Untuk Kecamatan Pulau Besar penyediaan listrik PLN belum ada. Penyediaan energi listrik di Kecamatan Pulau Besar sebanyak 60,54 persen menggunanakan mesin diesel milik orang lain, 14,71 persen menggunakan mesin diesel sendiri dan 24,54 persen menggunakan minyak tanah.

    TRANSPORTASI

    Untuk hal transportasi, masyarakat Kecamatan Pulau Besar lebih banyak menggunakan motor. Dari data yang ada, jumlah kendaraan bermotor yang digunankan terus meningkat dari tahun 2008 yaitu 1677 motor menjadi 1766 motor di tahun 2010. Guna mendukung kelancaran sektor transportasi tersebut dibuatlah jalan-jalan aspal. Sampai tahun 2010 kondisi jalan di Kecamatan Pulau Besar belum cukup baik. Dari sekitar 61,40 km panjang jalan yang ada di Kecamatan Pulau Besar, 89 persen jalan sudah diaspal sedangkan 11 persen masih dalam kondisi tanah.

    Read More
  • Super User / Jul 18, 2014 Kepulauan Pongok

    Kepulauan Pongok adalah sebuah kecamatan di kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia.

    Kecamatan Kepulauan Pongok merupakan kecamatan yang baru dimekarkan dari Kecamatan Lepar Pongok yang diresmikan pada tanggal 12 Juli 2012 oleh Bupati Bangka Selatan. Kecamatan Kepulauan Pongok merupakan kecamatan yang terdiri dari 2 pulau yaitu Pulau Pongok dan Pulau Celagen. Dengan luas wilayah sebesar 92,128 km, Kecamatan Kepulauan Pongok secara administratif terbagi menjadi 2 Desa yaitu, Pongok dan Celagen.

    Secara geografis Kecamatan Kepulauan Pongok berbatasan dengan Selat Gaspar di sebelah utara dan timur, Laut Jawa di sebelah selatan. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan semua desa di Kecamatan Kepulauan Pongok merupakan desa pesisir.

    Tahun 2011 berdasarkan hasil sensus penduduk jumlah penduduk Kecamatan Kepulauan Pongok menjadi 5.024 jiwa dengan kepadatan penduduk 44 jiwa per km.

    Sektor Perikanan merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Kecamatan Kepulauan Pongok, karena merupakan kontributor terbesar terhadap PDRB Kecamatan Kepulauan Pongok, karena banyak penduduk di Kecamatan Kepulauan Pongok sebagai nelayan.

    Read More
  • 1
porn